Rabu, 25 April 2012

Konsep Laba

BAB I
PENDAHULUAN

Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi.Perbedaan diantara keduanya adalah  dalam hal pendefinisian biaya.
Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi, teori akuntansi sampai saat ini belum mencapai kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba.
Dari sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan secara luas. Sementara itu, pemakai informasi mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Teori akuntansi laba menghadapi dua pendekatan : satu laba untuk berbagai tujuan atau beda tujuan beda laba. Teori akuntansi diarahkan untuk memformulasi laba dengan pendekatan pertama.
Laba adalah salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan, Laba terdiri atas beberapa jenis, yaitu :
  1. Laba kotor, Laba kotor adalah selisih dari hasil penjualan dengan harga pokok penjualan
  2. Laba Operasional, merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali ada perubahan-perubahan besar dala perekonomiannya.
  3. Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax) , Laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil dan biaya diluar operasi biasa.
  4. Laba Setelah Pajak Atau Laba Bersih, Laba Bersih adalah laba setelah dikurangi berbagai pajak.
BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP LABA
Fisher (1912) dan Bedford (1965) menyatakan bahwa pada dasarnya ada tiga konsep laba yang secara umum dibicarakan dan digunakan dalam bidang ekonomi
  Psychic income, yang menunjukkan konsumsi barang/jasa yang dapat memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
  Real income, yang menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
  Money income, yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber ekonomi yang digunakan untuk konsumsi sesuai dengan biaya hidup cost of living.

A.          Pengertian Laba
Tujuan utama suatu perusahaan adalah memperoleh laba, secara terus menerus sehingga kontinuitas perusahaan (Going Concern) terjaga dan dapat dipertahankan, bahkan untuk memperluas usaha perusahaan. Suatu perusahaan dapat dikatakan memperoleh laba apabila produksi yang dihasilkan oleh perusahaan dapat terjual dengan nilai yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yang bersangkutan.
Secara umum para pakar dalam bidang akuntansi mendefiniskan pengertian laba dengan berbagai macam deskripsi seperti:
·         Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
·         Stice, Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.
·         Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss).
Pengertian laba apabila dilihat dari penghasilan, dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu :
1. Laba yang sudah terealisasi yaitu laba yang terjadi karena transaksi penjualan.
2. Laba yang belum terealisasi yaitu laba yang terjadi karena peningkatan kekayaan sebagai akibat dari kenaikan nilai aktiva (unrealized appreciation assets) dan belum terjadi transaksi.
IAI tidak menerjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah penghasilan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, (IAI,1994) mengartikan income (penghasilan) yakni Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanam modal.
Dari pengertian laba diatas dapat disimpulkan bahwa laba adalah selisih lebih antara pendapatan dan beban  yang timbul dalam kegiatan utama/sampingan di perusahaan selama suatu periode.
Jadi laba operasional adalah menunjukan suatu hubungan  antara pendapatan yang diperoleh dari pelanggan dan beban-beban yang terjadi  dalam rangka menghasilkan pendapatan yang dilakukan oleh perusahaan berasal dari kegiatan utamanya selama periode tertentu.  Menurut IAI, PSAK No.1, memberikan contoh dalam menghitung laba operasional sebagai berikut :
“Pendapatan                                                     X
Beban pokok penjualan                                   (X)
Laba kotor                                                        X
Pendapatan operasi lainnya                              X
Beban pemasaran                                             (X)
Beban administrasi dan umum                        (X)
Beban operasi lainnya                                     (X)
Laba operasi                                                     X       



B.           Pengakuan Laba
Oleh karena laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, secara umum laba diakui sejalan dengan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa: penghasilan (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal.
Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa, laba (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal.
Pada umumnya pengakuan laba dari transaksi penjualan ada dua cara yaitu :
a.      Metode laba diakui pada periode penjualan (Akrual Basic).
Apabila metode ini digunakan maka penjualan diperlakukan sama seperti penjualan biasa atau transaksi penjualan kredit. Laba diakui pada saat terjadinya penjualan ditandai dengan timbulnya piutang atau tagihan kepada pembeli.
Ketentuan metode ini adalah sebagai berikut :
·               Laba diakui seluruhnya pada periode dimana penjualan dilakukan.
·               Pada tahun berikutnya, tidak diakui adanya laba tetapi hanya mencatat penerimaan kas dan mengurangi piutang.
·               Hasil penagihan (pembayaran) setelah tahun penjualan dianggap sebagai pengembalian pokok piutang angsuran.
·               Apabila konsumen dibebani bunga maka pencatatan atas bunga dilakukan dengan mengakui pendapatan bunga.
Berikut ini adalah pencatatan jurnal laba kotor :
·               Jika barang dagang dijual secara angsuran , maka perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit hasil penjualan angsuran tersebut. Selisihnya akan direalisasi pada periode yang sama terjadinyapenjualan angsuran tersebut.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                   xxx
Penjualan angsuran                                         xxx
·               Jika dipergunakan system balans permanen (perpetual inventory system), maka jurnalnya ditambah dengan mendebit perkiraan harga pokok penjualan angsuran dan mengkredit perkiraan persiadaan barang dagang.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                   xxx
Penjualan angsuran                                         xxx
Harga pokok penjualan angsuran                    xxx
Persediaan barang dagang                              xxx
·               Jika terjadi beban tak tertagihnya piutang  dan lain sebagainya, perkiraan bebannya didebit dan mengkredit perkiraan penilaian asset seperti Penyisihan biaya penjualan penjualan angsuran dan Penyisihan piutang angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Beban usaha                                                    xxx
Penyisihan piutang angsuran/                          xxx
Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx
·               Jika pada periode berikutnya beban penjualan angsuran tersebut terjadi, penyisihan tersebut akan didebit, dan kas yang dikeluarkan serta saldo piutang usaha yang tidak tertagih akan dikredit.
Jurnalnya sebagai berikut :
Penyisihan piutang angsuran/
Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx
Kas                                                                  xxx
Piutang usaha angsuran                                   xxx
a.      Metode laba kotor diakui proporsional sesuai dengan penerimaan kas (Cash Basic).
Pada metode ini, laba kotor diakui secara proporsional sebesar persentase laba kotor dibandingkan dengan jumlah uang kas yang diterima. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan yang menerapkan penjualan angsuran dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi.
Ketentuan akuntansi pada metode laba diakui proporsional dengan penerimaan kas adalah sebagai berikut :
  1. Laba penjualan yang timbul pada saat transaksi dilakukan, dimasukkan ke dalam rekening ”Laba Kotor Belum Direalisasi” (LKBD).
  2. Setiap akhir tahun, perusahaan mengakui adanya laba kotor direalisasi (LKD) = % LKBD  x  jumlah kas yang diterima tahun yang  bersangkutan (tdk termasuk bunga)
  3. % LKD dicatat dengan rumus:
Harga jual  -  harga pokok   x   100%
Harga jual
  1. LKD adalah merupakan pengakuan laba secara bertahap dari LKBD, yang kemudian diakui sebagai laba periode yang bersangkutan di laporan rugi-laba.
  2. Pendapatan bunga dicatat dan diakui tersendiri di luar LKD.
  3. LKBD yang belum disesuaikan menjadi LKD, akan disajikan di Neraca pada sisi passiva di bawah kelompok hutang.
Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan.
Berikut ini adalan pencatatan jurnalnya :
·               Jika barang dagang dijual secara angsuran, dan jika perusahaan menggunakan system fisik dalam pencatatan persediaanya, maka perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan penjualan angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                               xxx
Penjualan angsuran                                                      xxx
·               Jika perusahaan menggunakan system balans permanen, selain jurnal  tersebut diatas ditambah jurnal pengakuan harga pokok penjualan angsuran tersebut.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                         xxx
Penjualan angsuran xxx
Harga pokok penj. angsuran                                 xxx
Persediaan barang dagang                                          xxx
·               Penagihan piutang usaha angsuran akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Kas                                                                        xxx
Piutang usaha angsuran                                               xxx
Pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatat mengenai tiga hal, sebagai berikut :
·               Mencatat harga pokokpenjualan angsuran. Perkiraan pengiriman barang penjualan angsuran merupakan perkiraan rugi laba atau perkiraan nominal dan harus ditutup ke perkiraan laba/rugi.
Jurnalnya sebagai berikut :
Harga pokok penj. angsuran                                       xxx
Pengiriman barang penj. angsuran                              xxx
Jurnal ini dilakukan jika perusahaan menggunakan system fisik, jika perusahaan menggunakan system balans permanen maka jurnal ini tidak diperlukan karena pengakuan harga pokok penjualan angsuran telah dilakukan pada saat terjadinya penjualan angsuran tersebut.
·               Mencatat laba kotor yang ditangguhkan.
Jurnalnya sebagai berikut :
Penjualan angsuran                                                     xxx
Harga pokok penj. angsuran                                       xxx
Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx
Jurnal penyesuaian ini berlaku baik untuk system fisik maupun balans permanen.
·               Mencatat realisasi laba kotor atas penerimaan kas dari hasil penjualan angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx
Laba kotor yang direalisasi                                         xxx
Laba kotor yang ditangguhkan adalah selisih antara penjualan angsuran dengan harga pokoknya. Laba kotor yang ditangguhkan akan direalisasi pada saat penerimaan tagihan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan persentase laba kotor dengan tagihan yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut.
Untuk menghitung persentase laba kotor adalah membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan dengan 100 %, atau dengan membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan piutang usaha angsuran pada saat yang sama dan hasilnya dikalikan 100%.

C.          Pengukuran Laba
Pendekatan transaksi tidak menitikberatkan pada nilai aktiva tetap seperti yang dilakukan pada pendekatan penilaian, tetapi memusatkan perhatian pada pengakuan terinci atas pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.
Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Pengukuran besarnya laba sangat tergantung pada besarnya pendapatan dan biaya. Karena laba adalah bagian dari pendapatan, maka konsep penghimpunan an realisasi pendapatan juga berlaku untuk laba. Dengan demikian perlakuan akuntansi terhadap laba tidak akan menyimpang dari perlakuan akuntansi terhadap pendapatan.
            Secara konseptual ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba. Pendekatan tersebut adalah :
1.             Economic Approach (Pendekatan Ekonomi)
Pendekatan ekonomi dalam menilai laba adalah menilai harta bersih dari suatu satuan usaha pada dua saat yang berbeda dan menghitung perubahan yang telah terjadi. Jika telah disesuaikan dengan investasi atau penarikan harta oleh pemilik, terjadi perubahan positif, akan diperoleh laba. Jika perubahannya negatif akan diperoleh rugi. Karena laba ditetapkan dengan membandingkan nilai harga pada dua saat yang berbeda, maka metode ini kadangkala disebut sebagai metode penilaian (Valuation method).
2.             Transaction Approach (Pendekatan Transaksi)
Pendekatan transaksi atau disebut metode penandingan (maching method) memusatkan perhatian pada kejadian-kejadian usaha yang dipengaruhi elemen-elemen tertentu laporan keuangan yaitu pendapatan, keuntungan, beban, dan kerugian. Dengan kata lain, pendekatan ini hanya berkenaan dengan pencatatan perubahan-perubahan nilai aktiva dan utang yang disebabkan oleh adanya transaksi-transaksi.
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba) terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam perusahaan.
Pada saat transaksi eksternal terjadi, nilai pasar dapat dijadikan dasar untuk mengakui pendapatan. Transaksi internal berasal dari perubahan nilai, yaitu perubahan nilai dari pemakaian atau konversi aktiva. Apabila konversi telah terjadi, maka nilai aktiva lama akan diubah menjadi aktiva baru.konsep atau pendekatan ini sama dengan konsep realisasi pendapatan.
Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu :
1.      Komponen laba dapat dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya : atas dasar, produk /konsumen.
2.      Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi.
3.      Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode.
4.      Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi external untuk berbagai tujuan.
5.      Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.
3.             Pendekatan Kegiatan
Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran.
Perbedaannya adalah bahwa pendekatan transaksi didasarkan pada proses pelaporan yang mengukur transaksi dengan pihak luar. Sementara pendekatan kegiatan didasarkan pada konsep peristiwa/ kegiatan dalam arti luas, tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar. Meskipun demikian keduanya gagal menunjukan pengukuran laba dalam dunia nyata. Hal ini disebabkan dua pendekatan tersebut di dasarkan pada hubungan struktural yang sama yang tidak ada dalam dunia nyata.
Kebaikan pendekatan kegiatan adalah :
·         Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenios evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditukar pada usaha memperoleh capital gain.
·         Effisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
·         Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.
4.               Pendekatan Mempertahankan Kapital / Kemakmuran (Capital Maintenance)
Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat dipertahankan. Sebelum membahas pengukuran laba atas dasar konsep mempertahankan kemakmuran/kapital.
Atas dasar konsep kapital sebagai tingkat kemakmuran, maka laba merupakan aliran kemakmuran yang dapat di konsumsikan (dinikmati) selama satu periode, tanpa mengurangi tingkat kemakmuran sebelumnya. Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode [ Laba = total aktiva neto (akhir periode)- kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital maintenance concept).
Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net-worth) atau aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran tertentu. pengukuran terhadap sangat dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur), jenis kapital, dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.
Pengukuran laba dalam akuntansi dapat dibagi menjadi dua yaitu skala nominal dan skala daya beli konstan, yakni:
a.      Skala Nominal
Unit pengukur yang digunakan dalam skala pengukuran nominal adalah jumlah rupiah (nominal) yang telah terjadi dan dicatat dalam akuntansi tanpa memperhatikan perubahan daya beli. Dengan demikian, jumlah tersebut dapat ditambahkan bersama-sama atau dikurangkan satu sama lain.
b.      Skala Daya Beli Konstan
Unit pengukur yang digunakan adalah unit moneter yang nilainya dinyatakan dalam bentuk daya beli. Oleh karena daya beli uang berubah, maka unit moneter sebagai indikator nilai atas dasar skala daya beli konstan, unit moneter diubah dengan menggunakan indeks tertentu (misalnya indeks harga konsumen). Atas dasar skala ini, semua nilai (rupiah) dapat menunjukkan daya beli yang sama.

D.          Penilaian Laba
Pengukuran kapital pada dua titik waktu menimbulkan masalah konseptual karena dengan berjalannya waktu beberapa hal yang bersifat ekonomik berubah dan harus dipertimbangkan  yaitu unit atau skala pengukur dan dasar pengukuran. Hal lain yang menentukan cara menilai laba adalah jenis laba (fisis atau finansial) dan dasar penilaian.
Jenis Kapital :
·               Kapital Finansial
Adalah klaim dipandang dari jumlah rupiah atau nilai yang melekat padanya tanpa memperhatikan wujud fisis klaim tersebut. Dengan konsep ini, laba atau kembalian atas kapital finansial akan timbul bila jumlah rupiah klaim finansial pada akhir suatu periode melebihi jumlah klaim finansial pada awal periode (setelah pengaruh transaksi pemilik atau penguasa klaim selama periode dikeluarkan).
·               Kapital Fisis
Adalah sumber ekonomik yang dikuasai oleh entitas yang dipandang atau dimaknai sebagai kapasitas produksi fisis yaitu kemampuan menghasilkan  barang dan jasa. Dengan konsep ini, laba atau kembalian atas kapital fisis akan timbul bila kapasitas produksi fisis pada akhir periode melebihi kapasitas produksi fisis pada awal periode.
Perbedaan antara kedua jenis kapital dilihat dari pengaruh perubahan harga atas aset yang ditahan atau kewajiban yang ditanggung selama satu periode. Dalam kapital finansial pengaruh perubahan diakui sebagai untung atau rugi menahan atau penahanan dan dilaporkan melalui statemen laba rugi, sedangkan kapital fisis pengaruh perubahan diakui sebagai penyesuai kapital dan tidak masuk dalam statemen laba rugi.
Dasar atau Atribut penilaian:
·               Kos Historis
Merupakan jumlah rupiah sepakatan atau harga pertukaran yang telah tercatat dalam sistem pembukuan.
·               Kos sekarang
Menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara.
            Kos sekarang berbeda dengan kos historis bukan karena perubahan harga umum tetapi karena perubahan harga barang tertentu  akibat perubahan selera, teknologi dan fungsi.

Penilaian Laba dengan Mempertahankan kapital
  Berbagai pendekatan penilaian kapital dan implikasinya terhadap penentuan laba antara lain adalah :
1.            Kapitalisasi aliran kas harapan
Konsep laba ini mendekati konsep laba ekonomik. Dengan konsep ini, akan ditentukan nilai kapitalisasian investasi pemegang saham pada awal dan akhir periode. Dalam hal ini, laba merupakan selisih nilai kapitalisasian awal dan akhir periode. Meskipun, konsep ini mendekati laba ekonomik namun sistem pembukuan perusahaan mungkin tidak mendukung konsep pengoperasian.
2.            Penilaian pasar atas aset bersih perusahaan
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital finansial. Dimana, kapital diukur atas dasar berapa jumlah rupiah yang investor bersedia membayar untuk seluruh kekayaan perusahaan dikurangi seluruh kewajiban. Untuk memperoleh nilai kapital yang wajar dapat digunakan alternatif penilaian yaitu kapital diukur atas dasar perkalian antara volume saham yang beredar dengan harga pasar saham pada awal dan akhir periode.
3.            Setara Kas sekarang
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Dasar pengukuran adalah semua jumlah rupiah setara tunai pos aset dikurangi jumlah rupiah setara tunai  semua utang. Berbeda dengan penilaian pasar atas aset bersih perusahaan, penilaian ini merupakan jumlah harga pasar tiap jenis aset secara individual. Walaupun penilaian ini objektif , pasar bebas untuk tiap jenis aset tidak selalu ada.
4.            Harga masukan historis
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Laba diukur berdasarkan selisih aset bersih awal dan akhir periode yang masing-masing dinyatakan dalam kos historisnya. Hal inilah yang dianut.
5.            Harga masukan sekarang
Perbedaan penilaian ini dengan harga masukan historis adalah pendekatan ini menilai komponen-komponen kapital awal dan akhir dengan kos masukan sekarang atau kos pengganti pada saat itu. Kapital dapat dipertahankan apabila kos pengganti akhir perioda sama dengan kos pengganti awal periode. Dimana perusahaan mampu mempertahankan kemampuan produktif seperti sedia kala (awal periode) sebelum kenaikan kapital dapat didistribusikan dalam bentuk deviden.
6.            Pembertahanan daya beli konstan
Pengukuran dengan unit daya beli konstan ini basisnya adalah kos historis. Kapital awal dan akhir dinyatakan dalam unit daya beli konstan pada indeks dasar tertentu. Laba yang diukur berdasarkan selisih kapital awal dan akhir akan menggambarkan tambahan daya beli kapital yang dimiliki / dikuasai perusahaan tanpa harus mengurangi daya beli kapital yang mula-mula.
Secara umum, penentuan laba atas dasar konsep pemertahanan kapital memerlukan penilaian atas kapital baik fisis maupun finansial pada awal dan akhir suatu periode.

E.           Penyajian Laba
Setelah kriteria-kriteria pengakuan dan pengukuran pendapatan ditetapkan, cara pelaporan (penyajian) laba harus ditentukan juga. Penyajiana laba perusahaan sangat diperlukan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan dimasa yang akan datang. Penyajian laba harus dapat dipahami oleh pihak yang berkepentingan, maka harus disajikan sesuai dengan prinsip yang berlaku umum, dengan ketentuan menurut Sofyan Safri Harahap dalam bukunya “Teori Akuntansi” adalah sebagai berikut :
“Cara penyajian laporan laba/Rugi dapat ditempuh dalam dua cara :
1.      Single step form (bentuk langkah-tunggal)
Dalam meyajikan suatu laporan laba/rugi menggunakan single step from, yaitu dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk menghitung laba/rugi bersih hanya memerlukan satu langkah yaitu mengurangkan total biaya terhadap total pengahasilan. Atau ada kata lain semua pendapatan dan keuntungan dalam operasi perusahaan ditempatkan pada bagian pertama diikuti dengan semua beban dan kerugian dari hasil operasi perusahaan.
2.      Multiple step from (bentuk langkah bertahap)”.
Sedangkan menggunakan multiple step form, penyajian angka laba/rugi dilakukan dengan beberapa tahap. Mulai dari penjualan bersih (selisih antara penjualan kotor dengan retur serta diskon penjulan) dikurangi dengan harga pokok penjualan sama dengan laba kotor, kemudian dikurangi dengan biaya operasi dinamakan laba operasi. Dari laba operasi ditambahkan pendapatan/keuntungan lain, kurangi beban/kerugian lain, kemudian akan diperoleh laba sebelum pajak, kurangi pajak, baru dihasilkan laba/rugi bersih.

Keakuratan Penyajian Laba Operasional
Laporan keuangan perusahaan merupakan output yang dihasilkan dari proses akuntansi yang akan menyediakan informasi yang menyangkut transaksi dan kegiatan-kegiatan keuangan yang dilaksanakan oleh perusahaan yang bermanfaat bagi para pemakai baik intern maupun ektern. yang nantinya akan disampaikan pada pihak yang berkepentingan.
Untuk mengetahui informasi prestasi suatu perusahaan dengan melihat laporan laba rugi dimana mencakup proses perhitungan laba. Laba dapat dibedakan menjadi dua yaitu laba operasi dan laba bersih. Laba oprerasional adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan usaha utama sedangkan laba bersih adalah laba yang dihasilkan setelah dikurangi dengan  kerugian kerugian diluar usaha serta pajak penghasilan. Pelaporan keuangan terletak pada informasi mengenai prestasi suatu perusahaan yang ditunjukan oleh tolak ukur atas laba serta informasi lainnya yang harus diungkapkan. Penyajian laba usaha yang akurat (tepat) harus memenuhi syarat penyajian.
Menurut Smith dan Skousen alih bahasa Alfonso Sirait dalam bukunya “Intermediate Accounting“ menyatakan :“Ketepatan penyajian yang diartikan bahwa antara informasi yang disajikan oleh suatu perusahaan dengan hasil-hasil aktual dan aktivitas ekonomi yang diukur harus ada kesesuaian dari keduanya".
Jadi jumlah (angka) serta uraian realitas ekonomi dari apa yang disajikan harus ada kesesuaian. Sedangkan menurut IAI, 2004 PSAK No. 1 menyebutkan bahwa kelayakan penyajian ini meliputi.
ü   Penyajian yang Jujur
Penyajian yang jujur dapat dijelaskan sebagai berikut :“Penyajian yang harus memberikan informasi yang menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan”.
ü   Penyajian yang Wajar
“Penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu”.
ü   Tepat Waktu Penyajian
Tepat waktu penyajian dapat dijelaskan sebagai berikut : “Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam laporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya”.
Maka informasi yang disajikan oleh perusahaan agar bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan dan dapat diandalkan maka informasi itu harus menggambarkan dengan jujur dan wajar semua transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan dan tepat waktu.
Tujuan Pelaporan Laba
  Sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
  Sebagai pengukur prestasi manajemen
  Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
  Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
  Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
  Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
  Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
  Sebagai dasar pembagian deviden

F.           Pengungkapan Laba
Informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan sesuai dengan ketentuan Bapepam yang terkait dengan laporan keuangan, serta yang sesuai dengan praktik akuntansi yang lazim berlaku di pasar modal tetap dilakukan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK.
Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai dengan komponen utamanya. Setiap pos dalam Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas harus direferensi silang (cross-reference) dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan, jika dilakukan pengungkapan.
Pengungkapan dengan menggunakan kata "sebagian" tidak diperkenankan untuk menjelaskan adanya bagian dari suatu jumlah. Pengungkapan hal tersebut harus dilakukan dengan mencantumkan jumlah atau persentase. Bila perusahaan melakukan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan yang telah diterbitkan sebelumnya, maka penyajian kembali tersebut berikut nomor catatan atas laporan keuangan yang mengungkapkannya harus disebutkan pada neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas yang mengalami perubahan.
Pada neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.
Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan secara terpisah jumlah dari setiap jenis transaksi dan saldo dengan para, pegawai, pemegang saham utama dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Ikhtisar terpisah tersebut diperlukan untuk piutang, hutang, penjualan atau pendapatan dan beban atau rugi. Apabila jumlah transaksi untuk masing-masing kategori tersebut dengan pihak tertentu melebihi Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), maka jumlah tersebut harus disajikan secara terpisah dan nama pihak tersebut berikut sifat hubungannya wajib diungkapkan.
Apabila PSAK dan peraturan Bapepam belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka manajemen harus menetapkan kebijakan yang memberi kepastian
bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan dan dapat diandalkan, dengan pengertian:
1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahan;
2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya;
3) netral yaitu bebas dari keberpihakan;
4) mencerminkan kehati-hatian; dan
5) mencakup semua hal yang material.
Peristiwa atau transaksi yang terjadi antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan yang mempunyai akibat material terhadap laporan keuangan, sehingga memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan harus diungkapkan.



BAB III
PENUTUP

Keberhasilan perusahaan dalam mengoperasikan usahanya adalah dengan mengevaluasi laba. Laba sebagai tolak ukur bagi perusahaan juga untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba hal ini dapat dilihat dalam laporan keuangan. Dalam laporan keuangan suatu laba harus disusun secara sistematis dimulai dari pendapatan atau penghasilan diikuti dengan beban-beban yang telah dikeluarkan, sehingga dapat terlihat kemajuan yang telah dicapai oleh perusahaan dalam mendapatkan laba.
Makna laba secara umum adalah kenaikan kemakmuaran dalam suatu periode yang dapat dinikmati (didistribusi atau ditarik) asalkan kemakmuran awal masih tetap dipertahankan. Pengertian semacam ini didasarkan pada konsep pemertahanan kapital. Konsep ini membedakan antara laba dan kapital.
Kapital bermakna sebagai sediaan (stock) potensi jasa atau kemakmuran sedangkan laba bermakna aliran (flow) kemakmuran. Dengan konsep pemertahanan kapital dapat dibedakan antara kembalian atas investasi dan pengembalian investasi serta antara transaksi operasi dan transaksi pemilik. Lebih lanjut, laba dapat dipandang sebagai perubahan aset bersih sehingga berbagai dasar penilaian kapital dapat diterapkan.
Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran untuk menilai prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba adalah pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya, akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain: laba kotor, laba operasional, laba sebelum pajak, dan laba bersih.




DAFTAR PUSTAKA




0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar

Enjoy In My Blog

Rabu, 25 April 2012

Konsep Laba

Diposkan oleh just di 20.54
BAB I
PENDAHULUAN

Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi.Perbedaan diantara keduanya adalah  dalam hal pendefinisian biaya.
Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi, teori akuntansi sampai saat ini belum mencapai kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba.
Dari sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan secara luas. Sementara itu, pemakai informasi mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Teori akuntansi laba menghadapi dua pendekatan : satu laba untuk berbagai tujuan atau beda tujuan beda laba. Teori akuntansi diarahkan untuk memformulasi laba dengan pendekatan pertama.
Laba adalah salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan, Laba terdiri atas beberapa jenis, yaitu :
  1. Laba kotor, Laba kotor adalah selisih dari hasil penjualan dengan harga pokok penjualan
  2. Laba Operasional, merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali ada perubahan-perubahan besar dala perekonomiannya.
  3. Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax) , Laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil dan biaya diluar operasi biasa.
  4. Laba Setelah Pajak Atau Laba Bersih, Laba Bersih adalah laba setelah dikurangi berbagai pajak.
BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP LABA
Fisher (1912) dan Bedford (1965) menyatakan bahwa pada dasarnya ada tiga konsep laba yang secara umum dibicarakan dan digunakan dalam bidang ekonomi
  Psychic income, yang menunjukkan konsumsi barang/jasa yang dapat memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
  Real income, yang menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
  Money income, yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber ekonomi yang digunakan untuk konsumsi sesuai dengan biaya hidup cost of living.

A.          Pengertian Laba
Tujuan utama suatu perusahaan adalah memperoleh laba, secara terus menerus sehingga kontinuitas perusahaan (Going Concern) terjaga dan dapat dipertahankan, bahkan untuk memperluas usaha perusahaan. Suatu perusahaan dapat dikatakan memperoleh laba apabila produksi yang dihasilkan oleh perusahaan dapat terjual dengan nilai yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yang bersangkutan.
Secara umum para pakar dalam bidang akuntansi mendefiniskan pengertian laba dengan berbagai macam deskripsi seperti:
·         Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
·         Stice, Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.
·         Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss).
Pengertian laba apabila dilihat dari penghasilan, dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu :
1. Laba yang sudah terealisasi yaitu laba yang terjadi karena transaksi penjualan.
2. Laba yang belum terealisasi yaitu laba yang terjadi karena peningkatan kekayaan sebagai akibat dari kenaikan nilai aktiva (unrealized appreciation assets) dan belum terjadi transaksi.
IAI tidak menerjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah penghasilan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, (IAI,1994) mengartikan income (penghasilan) yakni Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanam modal.
Dari pengertian laba diatas dapat disimpulkan bahwa laba adalah selisih lebih antara pendapatan dan beban  yang timbul dalam kegiatan utama/sampingan di perusahaan selama suatu periode.
Jadi laba operasional adalah menunjukan suatu hubungan  antara pendapatan yang diperoleh dari pelanggan dan beban-beban yang terjadi  dalam rangka menghasilkan pendapatan yang dilakukan oleh perusahaan berasal dari kegiatan utamanya selama periode tertentu.  Menurut IAI, PSAK No.1, memberikan contoh dalam menghitung laba operasional sebagai berikut :
“Pendapatan                                                     X
Beban pokok penjualan                                   (X)
Laba kotor                                                        X
Pendapatan operasi lainnya                              X
Beban pemasaran                                             (X)
Beban administrasi dan umum                        (X)
Beban operasi lainnya                                     (X)
Laba operasi                                                     X       



B.           Pengakuan Laba
Oleh karena laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, secara umum laba diakui sejalan dengan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa: penghasilan (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal.
Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa, laba (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal.
Pada umumnya pengakuan laba dari transaksi penjualan ada dua cara yaitu :
a.      Metode laba diakui pada periode penjualan (Akrual Basic).
Apabila metode ini digunakan maka penjualan diperlakukan sama seperti penjualan biasa atau transaksi penjualan kredit. Laba diakui pada saat terjadinya penjualan ditandai dengan timbulnya piutang atau tagihan kepada pembeli.
Ketentuan metode ini adalah sebagai berikut :
·               Laba diakui seluruhnya pada periode dimana penjualan dilakukan.
·               Pada tahun berikutnya, tidak diakui adanya laba tetapi hanya mencatat penerimaan kas dan mengurangi piutang.
·               Hasil penagihan (pembayaran) setelah tahun penjualan dianggap sebagai pengembalian pokok piutang angsuran.
·               Apabila konsumen dibebani bunga maka pencatatan atas bunga dilakukan dengan mengakui pendapatan bunga.
Berikut ini adalah pencatatan jurnal laba kotor :
·               Jika barang dagang dijual secara angsuran , maka perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit hasil penjualan angsuran tersebut. Selisihnya akan direalisasi pada periode yang sama terjadinyapenjualan angsuran tersebut.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                   xxx
Penjualan angsuran                                         xxx
·               Jika dipergunakan system balans permanen (perpetual inventory system), maka jurnalnya ditambah dengan mendebit perkiraan harga pokok penjualan angsuran dan mengkredit perkiraan persiadaan barang dagang.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                   xxx
Penjualan angsuran                                         xxx
Harga pokok penjualan angsuran                    xxx
Persediaan barang dagang                              xxx
·               Jika terjadi beban tak tertagihnya piutang  dan lain sebagainya, perkiraan bebannya didebit dan mengkredit perkiraan penilaian asset seperti Penyisihan biaya penjualan penjualan angsuran dan Penyisihan piutang angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Beban usaha                                                    xxx
Penyisihan piutang angsuran/                          xxx
Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx
·               Jika pada periode berikutnya beban penjualan angsuran tersebut terjadi, penyisihan tersebut akan didebit, dan kas yang dikeluarkan serta saldo piutang usaha yang tidak tertagih akan dikredit.
Jurnalnya sebagai berikut :
Penyisihan piutang angsuran/
Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx
Kas                                                                  xxx
Piutang usaha angsuran                                   xxx
a.      Metode laba kotor diakui proporsional sesuai dengan penerimaan kas (Cash Basic).
Pada metode ini, laba kotor diakui secara proporsional sebesar persentase laba kotor dibandingkan dengan jumlah uang kas yang diterima. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan yang menerapkan penjualan angsuran dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi.
Ketentuan akuntansi pada metode laba diakui proporsional dengan penerimaan kas adalah sebagai berikut :
  1. Laba penjualan yang timbul pada saat transaksi dilakukan, dimasukkan ke dalam rekening ”Laba Kotor Belum Direalisasi” (LKBD).
  2. Setiap akhir tahun, perusahaan mengakui adanya laba kotor direalisasi (LKD) = % LKBD  x  jumlah kas yang diterima tahun yang  bersangkutan (tdk termasuk bunga)
  3. % LKD dicatat dengan rumus:
Harga jual  -  harga pokok   x   100%
Harga jual
  1. LKD adalah merupakan pengakuan laba secara bertahap dari LKBD, yang kemudian diakui sebagai laba periode yang bersangkutan di laporan rugi-laba.
  2. Pendapatan bunga dicatat dan diakui tersendiri di luar LKD.
  3. LKBD yang belum disesuaikan menjadi LKD, akan disajikan di Neraca pada sisi passiva di bawah kelompok hutang.
Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan.
Berikut ini adalan pencatatan jurnalnya :
·               Jika barang dagang dijual secara angsuran, dan jika perusahaan menggunakan system fisik dalam pencatatan persediaanya, maka perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan penjualan angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                               xxx
Penjualan angsuran                                                      xxx
·               Jika perusahaan menggunakan system balans permanen, selain jurnal  tersebut diatas ditambah jurnal pengakuan harga pokok penjualan angsuran tersebut.
Jurnalnya sebagai berikut :
Piutang usaha angsuran                                         xxx
Penjualan angsuran xxx
Harga pokok penj. angsuran                                 xxx
Persediaan barang dagang                                          xxx
·               Penagihan piutang usaha angsuran akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Kas                                                                        xxx
Piutang usaha angsuran                                               xxx
Pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatat mengenai tiga hal, sebagai berikut :
·               Mencatat harga pokokpenjualan angsuran. Perkiraan pengiriman barang penjualan angsuran merupakan perkiraan rugi laba atau perkiraan nominal dan harus ditutup ke perkiraan laba/rugi.
Jurnalnya sebagai berikut :
Harga pokok penj. angsuran                                       xxx
Pengiriman barang penj. angsuran                              xxx
Jurnal ini dilakukan jika perusahaan menggunakan system fisik, jika perusahaan menggunakan system balans permanen maka jurnal ini tidak diperlukan karena pengakuan harga pokok penjualan angsuran telah dilakukan pada saat terjadinya penjualan angsuran tersebut.
·               Mencatat laba kotor yang ditangguhkan.
Jurnalnya sebagai berikut :
Penjualan angsuran                                                     xxx
Harga pokok penj. angsuran                                       xxx
Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx
Jurnal penyesuaian ini berlaku baik untuk system fisik maupun balans permanen.
·               Mencatat realisasi laba kotor atas penerimaan kas dari hasil penjualan angsuran.
Jurnalnya sebagai berikut :
Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx
Laba kotor yang direalisasi                                         xxx
Laba kotor yang ditangguhkan adalah selisih antara penjualan angsuran dengan harga pokoknya. Laba kotor yang ditangguhkan akan direalisasi pada saat penerimaan tagihan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan persentase laba kotor dengan tagihan yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut.
Untuk menghitung persentase laba kotor adalah membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan dengan 100 %, atau dengan membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan piutang usaha angsuran pada saat yang sama dan hasilnya dikalikan 100%.

C.          Pengukuran Laba
Pendekatan transaksi tidak menitikberatkan pada nilai aktiva tetap seperti yang dilakukan pada pendekatan penilaian, tetapi memusatkan perhatian pada pengakuan terinci atas pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.
Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Pengukuran besarnya laba sangat tergantung pada besarnya pendapatan dan biaya. Karena laba adalah bagian dari pendapatan, maka konsep penghimpunan an realisasi pendapatan juga berlaku untuk laba. Dengan demikian perlakuan akuntansi terhadap laba tidak akan menyimpang dari perlakuan akuntansi terhadap pendapatan.
            Secara konseptual ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba. Pendekatan tersebut adalah :
1.             Economic Approach (Pendekatan Ekonomi)
Pendekatan ekonomi dalam menilai laba adalah menilai harta bersih dari suatu satuan usaha pada dua saat yang berbeda dan menghitung perubahan yang telah terjadi. Jika telah disesuaikan dengan investasi atau penarikan harta oleh pemilik, terjadi perubahan positif, akan diperoleh laba. Jika perubahannya negatif akan diperoleh rugi. Karena laba ditetapkan dengan membandingkan nilai harga pada dua saat yang berbeda, maka metode ini kadangkala disebut sebagai metode penilaian (Valuation method).
2.             Transaction Approach (Pendekatan Transaksi)
Pendekatan transaksi atau disebut metode penandingan (maching method) memusatkan perhatian pada kejadian-kejadian usaha yang dipengaruhi elemen-elemen tertentu laporan keuangan yaitu pendapatan, keuntungan, beban, dan kerugian. Dengan kata lain, pendekatan ini hanya berkenaan dengan pencatatan perubahan-perubahan nilai aktiva dan utang yang disebabkan oleh adanya transaksi-transaksi.
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba) terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam perusahaan.
Pada saat transaksi eksternal terjadi, nilai pasar dapat dijadikan dasar untuk mengakui pendapatan. Transaksi internal berasal dari perubahan nilai, yaitu perubahan nilai dari pemakaian atau konversi aktiva. Apabila konversi telah terjadi, maka nilai aktiva lama akan diubah menjadi aktiva baru.konsep atau pendekatan ini sama dengan konsep realisasi pendapatan.
Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu :
1.      Komponen laba dapat dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya : atas dasar, produk /konsumen.
2.      Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi.
3.      Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode.
4.      Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi external untuk berbagai tujuan.
5.      Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.
3.             Pendekatan Kegiatan
Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran.
Perbedaannya adalah bahwa pendekatan transaksi didasarkan pada proses pelaporan yang mengukur transaksi dengan pihak luar. Sementara pendekatan kegiatan didasarkan pada konsep peristiwa/ kegiatan dalam arti luas, tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar. Meskipun demikian keduanya gagal menunjukan pengukuran laba dalam dunia nyata. Hal ini disebabkan dua pendekatan tersebut di dasarkan pada hubungan struktural yang sama yang tidak ada dalam dunia nyata.
Kebaikan pendekatan kegiatan adalah :
·         Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenios evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditukar pada usaha memperoleh capital gain.
·         Effisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
·         Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.
4.               Pendekatan Mempertahankan Kapital / Kemakmuran (Capital Maintenance)
Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat dipertahankan. Sebelum membahas pengukuran laba atas dasar konsep mempertahankan kemakmuran/kapital.
Atas dasar konsep kapital sebagai tingkat kemakmuran, maka laba merupakan aliran kemakmuran yang dapat di konsumsikan (dinikmati) selama satu periode, tanpa mengurangi tingkat kemakmuran sebelumnya. Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode [ Laba = total aktiva neto (akhir periode)- kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital maintenance concept).
Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net-worth) atau aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran tertentu. pengukuran terhadap sangat dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur), jenis kapital, dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.
Pengukuran laba dalam akuntansi dapat dibagi menjadi dua yaitu skala nominal dan skala daya beli konstan, yakni:
a.      Skala Nominal
Unit pengukur yang digunakan dalam skala pengukuran nominal adalah jumlah rupiah (nominal) yang telah terjadi dan dicatat dalam akuntansi tanpa memperhatikan perubahan daya beli. Dengan demikian, jumlah tersebut dapat ditambahkan bersama-sama atau dikurangkan satu sama lain.
b.      Skala Daya Beli Konstan
Unit pengukur yang digunakan adalah unit moneter yang nilainya dinyatakan dalam bentuk daya beli. Oleh karena daya beli uang berubah, maka unit moneter sebagai indikator nilai atas dasar skala daya beli konstan, unit moneter diubah dengan menggunakan indeks tertentu (misalnya indeks harga konsumen). Atas dasar skala ini, semua nilai (rupiah) dapat menunjukkan daya beli yang sama.

D.          Penilaian Laba
Pengukuran kapital pada dua titik waktu menimbulkan masalah konseptual karena dengan berjalannya waktu beberapa hal yang bersifat ekonomik berubah dan harus dipertimbangkan  yaitu unit atau skala pengukur dan dasar pengukuran. Hal lain yang menentukan cara menilai laba adalah jenis laba (fisis atau finansial) dan dasar penilaian.
Jenis Kapital :
·               Kapital Finansial
Adalah klaim dipandang dari jumlah rupiah atau nilai yang melekat padanya tanpa memperhatikan wujud fisis klaim tersebut. Dengan konsep ini, laba atau kembalian atas kapital finansial akan timbul bila jumlah rupiah klaim finansial pada akhir suatu periode melebihi jumlah klaim finansial pada awal periode (setelah pengaruh transaksi pemilik atau penguasa klaim selama periode dikeluarkan).
·               Kapital Fisis
Adalah sumber ekonomik yang dikuasai oleh entitas yang dipandang atau dimaknai sebagai kapasitas produksi fisis yaitu kemampuan menghasilkan  barang dan jasa. Dengan konsep ini, laba atau kembalian atas kapital fisis akan timbul bila kapasitas produksi fisis pada akhir periode melebihi kapasitas produksi fisis pada awal periode.
Perbedaan antara kedua jenis kapital dilihat dari pengaruh perubahan harga atas aset yang ditahan atau kewajiban yang ditanggung selama satu periode. Dalam kapital finansial pengaruh perubahan diakui sebagai untung atau rugi menahan atau penahanan dan dilaporkan melalui statemen laba rugi, sedangkan kapital fisis pengaruh perubahan diakui sebagai penyesuai kapital dan tidak masuk dalam statemen laba rugi.
Dasar atau Atribut penilaian:
·               Kos Historis
Merupakan jumlah rupiah sepakatan atau harga pertukaran yang telah tercatat dalam sistem pembukuan.
·               Kos sekarang
Menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara.
            Kos sekarang berbeda dengan kos historis bukan karena perubahan harga umum tetapi karena perubahan harga barang tertentu  akibat perubahan selera, teknologi dan fungsi.

Penilaian Laba dengan Mempertahankan kapital
  Berbagai pendekatan penilaian kapital dan implikasinya terhadap penentuan laba antara lain adalah :
1.            Kapitalisasi aliran kas harapan
Konsep laba ini mendekati konsep laba ekonomik. Dengan konsep ini, akan ditentukan nilai kapitalisasian investasi pemegang saham pada awal dan akhir periode. Dalam hal ini, laba merupakan selisih nilai kapitalisasian awal dan akhir periode. Meskipun, konsep ini mendekati laba ekonomik namun sistem pembukuan perusahaan mungkin tidak mendukung konsep pengoperasian.
2.            Penilaian pasar atas aset bersih perusahaan
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital finansial. Dimana, kapital diukur atas dasar berapa jumlah rupiah yang investor bersedia membayar untuk seluruh kekayaan perusahaan dikurangi seluruh kewajiban. Untuk memperoleh nilai kapital yang wajar dapat digunakan alternatif penilaian yaitu kapital diukur atas dasar perkalian antara volume saham yang beredar dengan harga pasar saham pada awal dan akhir periode.
3.            Setara Kas sekarang
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Dasar pengukuran adalah semua jumlah rupiah setara tunai pos aset dikurangi jumlah rupiah setara tunai  semua utang. Berbeda dengan penilaian pasar atas aset bersih perusahaan, penilaian ini merupakan jumlah harga pasar tiap jenis aset secara individual. Walaupun penilaian ini objektif , pasar bebas untuk tiap jenis aset tidak selalu ada.
4.            Harga masukan historis
Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Laba diukur berdasarkan selisih aset bersih awal dan akhir periode yang masing-masing dinyatakan dalam kos historisnya. Hal inilah yang dianut.
5.            Harga masukan sekarang
Perbedaan penilaian ini dengan harga masukan historis adalah pendekatan ini menilai komponen-komponen kapital awal dan akhir dengan kos masukan sekarang atau kos pengganti pada saat itu. Kapital dapat dipertahankan apabila kos pengganti akhir perioda sama dengan kos pengganti awal periode. Dimana perusahaan mampu mempertahankan kemampuan produktif seperti sedia kala (awal periode) sebelum kenaikan kapital dapat didistribusikan dalam bentuk deviden.
6.            Pembertahanan daya beli konstan
Pengukuran dengan unit daya beli konstan ini basisnya adalah kos historis. Kapital awal dan akhir dinyatakan dalam unit daya beli konstan pada indeks dasar tertentu. Laba yang diukur berdasarkan selisih kapital awal dan akhir akan menggambarkan tambahan daya beli kapital yang dimiliki / dikuasai perusahaan tanpa harus mengurangi daya beli kapital yang mula-mula.
Secara umum, penentuan laba atas dasar konsep pemertahanan kapital memerlukan penilaian atas kapital baik fisis maupun finansial pada awal dan akhir suatu periode.

E.           Penyajian Laba
Setelah kriteria-kriteria pengakuan dan pengukuran pendapatan ditetapkan, cara pelaporan (penyajian) laba harus ditentukan juga. Penyajiana laba perusahaan sangat diperlukan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan dimasa yang akan datang. Penyajian laba harus dapat dipahami oleh pihak yang berkepentingan, maka harus disajikan sesuai dengan prinsip yang berlaku umum, dengan ketentuan menurut Sofyan Safri Harahap dalam bukunya “Teori Akuntansi” adalah sebagai berikut :
“Cara penyajian laporan laba/Rugi dapat ditempuh dalam dua cara :
1.      Single step form (bentuk langkah-tunggal)
Dalam meyajikan suatu laporan laba/rugi menggunakan single step from, yaitu dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk menghitung laba/rugi bersih hanya memerlukan satu langkah yaitu mengurangkan total biaya terhadap total pengahasilan. Atau ada kata lain semua pendapatan dan keuntungan dalam operasi perusahaan ditempatkan pada bagian pertama diikuti dengan semua beban dan kerugian dari hasil operasi perusahaan.
2.      Multiple step from (bentuk langkah bertahap)”.
Sedangkan menggunakan multiple step form, penyajian angka laba/rugi dilakukan dengan beberapa tahap. Mulai dari penjualan bersih (selisih antara penjualan kotor dengan retur serta diskon penjulan) dikurangi dengan harga pokok penjualan sama dengan laba kotor, kemudian dikurangi dengan biaya operasi dinamakan laba operasi. Dari laba operasi ditambahkan pendapatan/keuntungan lain, kurangi beban/kerugian lain, kemudian akan diperoleh laba sebelum pajak, kurangi pajak, baru dihasilkan laba/rugi bersih.

Keakuratan Penyajian Laba Operasional
Laporan keuangan perusahaan merupakan output yang dihasilkan dari proses akuntansi yang akan menyediakan informasi yang menyangkut transaksi dan kegiatan-kegiatan keuangan yang dilaksanakan oleh perusahaan yang bermanfaat bagi para pemakai baik intern maupun ektern. yang nantinya akan disampaikan pada pihak yang berkepentingan.
Untuk mengetahui informasi prestasi suatu perusahaan dengan melihat laporan laba rugi dimana mencakup proses perhitungan laba. Laba dapat dibedakan menjadi dua yaitu laba operasi dan laba bersih. Laba oprerasional adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan usaha utama sedangkan laba bersih adalah laba yang dihasilkan setelah dikurangi dengan  kerugian kerugian diluar usaha serta pajak penghasilan. Pelaporan keuangan terletak pada informasi mengenai prestasi suatu perusahaan yang ditunjukan oleh tolak ukur atas laba serta informasi lainnya yang harus diungkapkan. Penyajian laba usaha yang akurat (tepat) harus memenuhi syarat penyajian.
Menurut Smith dan Skousen alih bahasa Alfonso Sirait dalam bukunya “Intermediate Accounting“ menyatakan :“Ketepatan penyajian yang diartikan bahwa antara informasi yang disajikan oleh suatu perusahaan dengan hasil-hasil aktual dan aktivitas ekonomi yang diukur harus ada kesesuaian dari keduanya".
Jadi jumlah (angka) serta uraian realitas ekonomi dari apa yang disajikan harus ada kesesuaian. Sedangkan menurut IAI, 2004 PSAK No. 1 menyebutkan bahwa kelayakan penyajian ini meliputi.
ü   Penyajian yang Jujur
Penyajian yang jujur dapat dijelaskan sebagai berikut :“Penyajian yang harus memberikan informasi yang menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan”.
ü   Penyajian yang Wajar
“Penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu”.
ü   Tepat Waktu Penyajian
Tepat waktu penyajian dapat dijelaskan sebagai berikut : “Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam laporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya”.
Maka informasi yang disajikan oleh perusahaan agar bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan dan dapat diandalkan maka informasi itu harus menggambarkan dengan jujur dan wajar semua transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan dan tepat waktu.
Tujuan Pelaporan Laba
  Sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
  Sebagai pengukur prestasi manajemen
  Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
  Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
  Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
  Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
  Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
  Sebagai dasar pembagian deviden

F.           Pengungkapan Laba
Informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan sesuai dengan ketentuan Bapepam yang terkait dengan laporan keuangan, serta yang sesuai dengan praktik akuntansi yang lazim berlaku di pasar modal tetap dilakukan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK.
Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai dengan komponen utamanya. Setiap pos dalam Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas harus direferensi silang (cross-reference) dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan, jika dilakukan pengungkapan.
Pengungkapan dengan menggunakan kata "sebagian" tidak diperkenankan untuk menjelaskan adanya bagian dari suatu jumlah. Pengungkapan hal tersebut harus dilakukan dengan mencantumkan jumlah atau persentase. Bila perusahaan melakukan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan yang telah diterbitkan sebelumnya, maka penyajian kembali tersebut berikut nomor catatan atas laporan keuangan yang mengungkapkannya harus disebutkan pada neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas yang mengalami perubahan.
Pada neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.
Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan secara terpisah jumlah dari setiap jenis transaksi dan saldo dengan para, pegawai, pemegang saham utama dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Ikhtisar terpisah tersebut diperlukan untuk piutang, hutang, penjualan atau pendapatan dan beban atau rugi. Apabila jumlah transaksi untuk masing-masing kategori tersebut dengan pihak tertentu melebihi Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), maka jumlah tersebut harus disajikan secara terpisah dan nama pihak tersebut berikut sifat hubungannya wajib diungkapkan.
Apabila PSAK dan peraturan Bapepam belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka manajemen harus menetapkan kebijakan yang memberi kepastian
bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan dan dapat diandalkan, dengan pengertian:
1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahan;
2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya;
3) netral yaitu bebas dari keberpihakan;
4) mencerminkan kehati-hatian; dan
5) mencakup semua hal yang material.
Peristiwa atau transaksi yang terjadi antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan yang mempunyai akibat material terhadap laporan keuangan, sehingga memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan harus diungkapkan.



BAB III
PENUTUP

Keberhasilan perusahaan dalam mengoperasikan usahanya adalah dengan mengevaluasi laba. Laba sebagai tolak ukur bagi perusahaan juga untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba hal ini dapat dilihat dalam laporan keuangan. Dalam laporan keuangan suatu laba harus disusun secara sistematis dimulai dari pendapatan atau penghasilan diikuti dengan beban-beban yang telah dikeluarkan, sehingga dapat terlihat kemajuan yang telah dicapai oleh perusahaan dalam mendapatkan laba.
Makna laba secara umum adalah kenaikan kemakmuaran dalam suatu periode yang dapat dinikmati (didistribusi atau ditarik) asalkan kemakmuran awal masih tetap dipertahankan. Pengertian semacam ini didasarkan pada konsep pemertahanan kapital. Konsep ini membedakan antara laba dan kapital.
Kapital bermakna sebagai sediaan (stock) potensi jasa atau kemakmuran sedangkan laba bermakna aliran (flow) kemakmuran. Dengan konsep pemertahanan kapital dapat dibedakan antara kembalian atas investasi dan pengembalian investasi serta antara transaksi operasi dan transaksi pemilik. Lebih lanjut, laba dapat dipandang sebagai perubahan aset bersih sehingga berbagai dasar penilaian kapital dapat diterapkan.
Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran untuk menilai prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba adalah pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya, akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain: laba kotor, laba operasional, laba sebelum pajak, dan laba bersih.




DAFTAR PUSTAKA




0 komentar on "Konsep Laba"

Poskan Komentar

music

kursor

Diberdayakan oleh Blogger.

Mi perfil

Foto Saya
just
enjoy is life
Lihat profil lengkapku

Search This Blog

Memuat...